• Mon. Oct 18th, 2021

Derrick Michael: Ingin Jadi Pemain Indonesia Pertama di NBA

Derrick Michael: Ingin Jadi Pemain Indonesia Pertama di NBA – Pebasket muda Indonesia, Derrick Michael Xzavierro saat ini sedang menjalani program pelatih basket NBA Global Academy 2021 di Basketball Australia Center of Excellence di Institut Olahraga Australia (AIS), Canberra.

Derrick Michael: Ingin Jadi Pemain Indonesia Pertama di NBA

nbaarena – Pemain berdarah Kamerun-Indonesia ini merupakan kandidat pertama dari Indonesia yang mengikuti program NBA Academy. Karenanya Derrick tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga. Ia pun ingin menjadi orang Indonesia pertama yang main di NBA (Amerika).

Melansir cnnindonesia, “Aku selalu menulis di diari apa yang disampaikan pelatih,” ucap Derrick mengenai caranya meningkatkan diri, dalam wawancara virtual dengan CNN Indonesia.

Baca juga : 5 Pemain Tertinggi di NBA Saat Ini

Bagaimanakah kisah pemain berusia 18 tahun ini selama di Canberra? Bagaimana pula kisah perjalanan pemain setinggi 203 centimeter mengejar kariernya? Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana ceritanya hingga masuk NBA Academy 2021?

Awal mulanya dikala saya tampak ddi FIBA Asia Cup pada 2020. Saat sebelum itu saya pula telah menjajaki program Baru NBA pada 2017.

Sepanjang ini gimana menyesuaikan diri di Canberra?

Cukup lezat kehidupan di mari. Sebab jauh dari indonesia saya wajib mulai menyesuaikan diri. Perbedaannya di mari bimbingan di hawa dingin. Ini jauh lebih berat. Sepanjang ini saya telah dapat menyesuaikan diri dengan suasana di mari.

Sebelum masuk Ragunan, bagaimana kisah basket Derrick dari kecil?

Saat sebelum masuk Ragunan sangat banyak tantangannya. Bener- benar banyak tantangan yang tidak gampang. Banyak kekalahan yang saya natural dari saat sebelum masuk Ragunan.

Apalagi tadinya saya luang tidak dapat diperoleh di Ragunan. Saya sempat hingga pada titik mau menyudahi saja. Dikala sedang kecil saya itu nyaris tidak sempat masuk seleksi- seleksi manapun. Tidak dapat turut pertandingan. Besar tubuh tidak menjamin dapat lulus pemilahan.

Apa motivasinya sehingga tetap bertahan?

Bunda yang membakar saya. Bunda bilang, Ingin apa saat ini? Bunda yang senantiasa bawa saya buat melanjutkan karir basket. Bunda bilang, Ingin cari apa lagi? Basket ini kan sesungguhnya alam aman saya. Jadi betul lalu berjuang tanpa henti. Bunda memantapkan saya.

Sasaran dalam satu- dua tahun ke depan semacam apa?

Saya ingin membuat Indonesia besar hati. Sasaran saya ke depan ingin membawa Indonesia berprestasi di tingkatan global. Jika di timnas[basket Indonesia] ini kan hitungannya saya belum berikan apapun ke timnas. Saya ingin kasih suatu ke timnas. Saya pula ingin jadi orang Indonesia awal yang tampak di NBA.

Cerita kalian berjuang masuk NBA ini kan viral. Apakah jadi beban?

Terbebani sih, enggak. Sering- kali, bukan jadi beban tetapi justru jadi dorongan. Saya amati banyak orang pertanyaan, Derrick bermain di NBA, bermain di klub mana? Banyak orang ini berani mensupport walaupun sesungguhnya tidak sedemikian itu ketahui. Banyak orang bukan memaki justru mensupport. Ini yang membuat saya termotivasi.

Apakah karena tinggi badan jadi hobi basket atau karena basket jadi badannya tinggi?

Besar karena basket, enggak. Saya memanglah kegemaran basket. Dari kecil sesungguhnya saya seperti kanak- kanak pada biasanya yang senang sepak bola. Saya pula senang nasib serta basket. Yang saya beli perlengkapannya betul sepak bola, nasib, serta basket. Kesimpulannya saya memilah basket selaku jalur hidup.

Tinggi kamu sudah 180 cm ketika kelas 6 SD, ada kisah lucu dan menarik soal ini?

Saya tidak ketahui apakah ini menarik ataupun justru serem. Bagi saya ini cerita yang menarik. Saya kan jika sekolah naik angkutan biasa. Dahulu kan belum terdapat ojek online seperti saat ini. Saya itu pergi kembali sekolah naik kecil bis. Nah, cocok di kecil bis itu saya luang dipalak. Saya dimintai duit.

Yang meminta ini merhatiin saya, tubuh besar tetapi gunakan busana SD. Saya pake tas anak SD di bagian depan serta celana merah yang pendek itu. Untuk uang lu! Saya berdiri. Ia terkejut ngeliatin sebab saya besar, tetapi wajahnya sedang anak. Culun lah pokoknya. Tetapi, betul senantiasa saya kasih pula, sebab saya khawatir pula dikala itu.